Terjemahan: Bab 1 “Bloodlines” Karya Richelle Mead

Bloodlines-BIG1Di bawah ini petikan novel “Bloodlines” karya Richelle Mead yang belum pernah diterbitkan atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Petikan ini diterjemahkan dan disunting oleh saya sendiri. Teks asli terdapat setelah terjemahan.

Judul: Bloodlines
Penulis: Richelle Mead
Tahun Publikasi: 2011
Penerbit: Razorbill
Genre: Young Adult, Fantasi
Bab ke: 1 (satu)

Bloodlines

Bab 1

AKU TIDAK BISA BERNAPAS.

Ada sebuah tangan menutup mulutku dan yang lainnya mengguncang bahuku, mengejutkanku dari tidur lelap. Seribu pikiran kalut melesat ke dalam benakku dalam sekejap. Akhirnya, ini terjadi. Mimpi terburukku menjadi nyata.

Mereka di sini! Mereka datang menjemputku!

Mataku berkedip, menatap panik ke sekeliling kamar yang gelap hingga wajah ayahku terlihat jelas. Aku berhenti meronta-ronta, bingung bukan main. Ayah melepaskanku dan melangkah mundur untuk memandangku dengan dingin.  Aku duduk di  ranjangku, jantungku masih berdegup kencang.

“Ayah?”

“Sydney. Kau tidak mau bangun.”

Tentu saja hanya itu pembelaan dirinya setelah menakutiku setengah mati.

“Kau harus berpakaian dan tampil sepantasnya,” lanjutnya. “Cepat dan jangan berisik. Temui aku di ruang kerja di bawah.”

Aku merasakan mataku membelalak tapi tidak ragu untuk menjawab. Hanya ada satu jawaban yang dapat diterima. “Ya, Pak. Tentu.”

“Aku akan membangunkan adikmu.” Dia berbalik menuju pintu dan aku melompat turun dari ranjang.

“Zoe?” Teriakku. “Untuk apa Ayah membutuhkannya?”

“Shh,” tegurnya. “Cepat dan bersiaplah. Dan ingat, jangan berisik. Jangan bangunkan ibumu.”

Dia menutup pintu tanpa berkata apa pun lagi, meninggalkanku termangu. Rasa panik yang baru saja reda kembali merasukiku. Untuk apa Ayah membutuhkan Zoe? Dibangunkan pada larut malam berarti ini adalah urusan Alkemis dan Zoe sama sekali tidak berkaitan dengan Alkemis. Sesungguhnya, aku juga tidak semenjak diberi  penangguhan tanpa batas waktu yang ditentukan karena perilaku burukku musim panas ini. Bagaimana jika ini berkaitan dengan itu?

Bagaimana jika akhirnya aku dibawa ke pusat pendidikan ulang dan Zoe akan menggantikanku?

Sejenak dunia di sekitarku berputar-putar dan aku berpegangan pada ranjangku untuk menstabilkan diri. Pusat pelatihan ulang.

Tempat itu adalah salah satu mimpi buruk bagi Alkemis muda sepertiku. Tempat misterius di mana orang-orang yang menjadi terlalu dekat dengan vampir diseret untuk mempelajari kesalahan-kesalahan dari perilaku mereka.

Apa yang sebenarnya terjadi di sana adalah sebuah rahasia yang tidak pernah ingin kuketahui. Aku cukup yakin “pusat pelatihan ulang” hanyalah sebuah cara halus untuk mengucapkan “pencucian otak”. Aku hanya pernah melihat satu orang yang telah kembali dan sejujurnya, dia tidak terlihat seperti manusia. Dia hampir seperti mayat hidup dan aku bahkan tidak ingin memikirkan apa yang mungkin telah mereka lakukan padanya hingga dia menjadi begitu.

Himbauan ayahku untuk bergegas kembali bergema dalam pikiranku dan aku berusaha menyingkirkan ketakutanku. Karena mengingat peringatannya yang lain, aku juga memastikan diriku bergerak tanpa menimbulkan suara. Ibuku mudah terbangun. Biasanya tidak masalah jika dia memergoki kami bangun atas suruhan Alkemis, tapi akhir-akhir ini dia tidak begitu ramah terhadap rekan-rekan suaminya (dan putrinya). Semenjak beberapa Alkemis marah mengantarku ke depan pintu rumah orang tuaku sebulan yang lalu, rumah ini terasa panas seperti sebuah kamp penjara.

Beberapa argumen tidak menyenangkan terjadi antara orang tuaku dan tanpa sadar adikku, Zoe, dan aku sering berjingkat ke sekeliling rumah.

Zoe.

Kenapa Ayah membutuhkan Zoe?

Pertanyaan itu meresapi diriku selagi aku bergegas bersiap. Aku tahu apa maksud dari “tampil sepantasnya”. Memakai celana jins dan kaus jelas tidak mungkin. Sebagai gantinya, aku mengambil celana panjang abu-abu dan sebuah kemeja putih kaku. Sebuah kardigan berwarna lebih gelap, abu-abu arang, aku pakai di atasnya, yang lalu aku ikat rapi ke pinggangku dengan sebuah tali pinggang berwarna hitam. Sebuah salib kecil terbuat dari emas—salib yang selalu kukenakan di leherku—adalah satu-satunya hiasan yang repot-repot aku pakai.

Rambutku sedikit menjadi masalah Bahkan, setelah hanya tidur selama dua jam, rambutku sudah sangat berantakan. Aku menyisirnya serapi mungkin sebisaku lalu melapisinya dengan semprot rambut yang tebal dengan harapan itu akan membantuku melewati apa pun yang akan terjadi. Sedikit serbuk bedak adalah satu-satunya rias wajah yang aku pakai. Aku tidak punya waktu untuk yang lainnya.

Seluruh proses itu memakan waktu selama enam menit, yang mungkin kini menjadi rekor baruku. Aku lari menuruni tangga tanpa bersuara, sekali lagi berhati-hati agar tidak membangunkan ibuku. Ruang keluarga terlihat gelap, tapi ada cahaya masuk dari celah pintu ruang kerja ayahku yang terbuka sedikit. Menganggap itu adalah sebuah undangan, aku buka pintu itu lalu masuk. Sebuah obrolan terhenti begitu aku masuk. Ayahku memandangiku dari ujung kepala hingga kaki dan menunjukkan persetujuannya atas penampilanku dengan cara terbaik yang dia tahu: hanya dengan menyimpan kritiknya.

“Sydney,” ujarnya segera. “Aku yakin kau sudah mengenal Donna Stanton.”

Sang Alkemis tangguh berdiri di dekat jendela sambil menyilangkan kedua tangannya, terlihat sekuat dan sekurus yang aku ingat. Akhir-akhir ini aku menghabiskan banyak waktu bersama Stanton walaupun aku tidak bisa mengatakan kami berteman—terutama karena salah satu tindakanku telah membuat kami berdua menjadi semacam “tahanan rumah vampir”. Jika dia menyembunyikan kebencian padaku, dia tidak menunjukkannya. Dia mengangguk ke arahku dengan sopan, wajahnya terlihat sangat serius.

Tiga Alkemis lainnya juga hadir, semuanya pria. Mereka diperkenalkan padaku sebagai Barnes, Michaelson, dan Horowitz. Barnes dan Michaelson seumuran ayahku dan Stanton. Horowitz lebih muda, sekitar pertengahan 20 tahun, dan sedang menyusun peralatan ahli tato. Mereka semua berpakaian sepertiku, mengenakan pakaian bisnis kasual dengan warna yang tidak mencolok. Tujuan kami adalah untuk selalu terlihat rapi tapi tidak menarik perhatian. Alkemis telah beraksi layaknya Men in Black selama berabad-abad, jauh sebelum manusia bermimpi hidup di planet lain. Saat cahaya langsung mengenai wajah mereka,  pada setiap Alkemis terlihat sebuah tato berbentuk bunga lili yang sama dengan milikku.

Sekali lagi, kegelisahanku tumbuh. Apakah ini semacam interogasi? Sebuah penilaian untuk melihat apakah keputusanku untuk menolong seorang gadis setengah vampir pengkhianat berarti kesetiaanku telah berubah? Aku menyilangkan kedua tanganku di atas dadaku dan  melatih wajahku agar netral, berharap aku terlihat tenang dan percaya diri. Jika aku masih punya kesempatan untuk membela diri, aku berniat memberi alasan yang kuat.

Sebelum siapa pun sempat berucap, Zoe masuk. Dia menutup pintu di belakangnya dan mengintip ke sekeliling dengan ketakutan, matanya membelalak. Ruang kerja ayahku sangat besar—dia membangun tambahan bangunan demi ruangan itu—dan dengan mudahnya menampung semua tamu. Tapi saat aku melihat adikku masuk, aku tahu dia merasa sesak dan terperangkap. Mataku bertemu dengannya dan berusaha mengirim pesan berisi simpati. Itu pasti berhasil karena dia bergegas berdiri di sisiku, rasa takutnya terlihat berkurang sedikit.

“Zoe,” ucap ayahku. Dia membiarkan namanya menggantung dengan cara yang dia miliki, membuat kami berdua paham bahwa dia kecewa. Aku langsung bisa menebak apa alasannya. Zoe mengenakan jins dan sweter tua serta mengepang rambut cokelatnya menjadi dua dengan manis, tetapi tidak rapi. Menurut standar orang lain, dia mungkin “tampil sepantasnya”, tetapi tidak menurut ayahku. Aku merasakan Zoe meringkuk padaku dan aku berusaha menegakkan badanku dan menjadi lebih protektif. Setelah memastikan kecamannya dirasakan, ayah kami memperkenalkan Zoe kepada yang lain. Stanton memberinya anggukan sopan yang juga dia berikan padaku lalu berbalik ke arah ayahku.

“Aku tidak mengerti, Jared,” ujar Stanton. “Siapa di antara mereka yang akan kau gunakan?”

“Itulah masalahnya,” ucap ayahku. “Zoe yang diminta… tapi aku tidak yakin dia siap. Bahkan, aku tahu dia belum siap. Dia hanya pernah menjalani pelatihan paling dasar. Namun, mengingat apa yang Sydney alami… baru-baru ini…” Otakku langsung mulai menyusun semua petunjuk yang ada.

Pertama, dan yang terpenting, sepertinya aku tidak akan dikirim ke pusat pendidikan ulang. Setidaknya, belum. Ini tentang masalah lain. Kecurigaanku sebelumnya benar.

Ada sebuah misi atau tugas yang akan dilaksanakan dan seseorang ingin menempatkan Zoe karena dia, tidak seperti salah satu anggota keluarganya yang lain, tidak pernah mengkhianati Alkemis. Ayahku benar bahwa Zoe hanya menerima instruksi dasar. Pekerjaan kami diberikan secara turun menurun dan aku telah dipilih beberapa tahun yang lalu sebagai Alkemis berikutnya dari keluarga Sage.

Kakakku, Carly, tidak terpilih dan kini sedang kuliah di tempat lain serta terlalu tua. Sebagai gantinya, Ayahku telah mendidik Zoe sebagai cadangan jika sesuatu terjadi padaku, seperti kecelakaan mobil atau vampir pencuri mobil.

Aku melangkah maju, tidak tahu apa yang akan kukatakan hingga aku bicara. Satu-satunya hal yang aku tahu pasti adalah aku tidak bisa membiarkan Zoe terlibat dalam rencana Alkemis. Aku lebih takut akan keselamatannya daripada pergi ke pusat pendidikan ulang—dan aku sangat takut dengan itu. “Aku telah bicara dengan komite tentang tindakan-tindakan yang telah kulakukan,” kataku. “Mereka tampaknya mengerti alasan aku melakukan tindakan tersebut. Aku sepenuhnya memenuhi syarat untuk bekerja dalam bentuk apapun yang kalian butuhkan—jauh dibandingkan dengan adikku. Aku punya pengalaman nyata. Aku tahu pekerjaan ini luar dan dalam.”

“Sedikit terlalu banyak pengalaman nyata jika ingatanku tidak keliru,” ucap Stanton datar.

“Aku sendiri ingin mendengar ‘alasan-alasan’ ini lagi,” ucap Barnes, menggunakan jarinya untuk membentuk tanda kutip. “Aku tidak suka melempar gadis yang baru setengah dilatih ke luar sana, tetapi aku juga sulit percaya seseorang yang telah menolong penjahat vampir disebut ‘sepenuhnya memenuhi syarat’.” Tanda kutip di udara lagi.

Aku membalasnya dengan tersenyum ramah, menyembuyikan kemarahanku. Jika aku menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya, itu tidak akan membantu masalahku. “Aku mengerti, Pak. Tapi Rose Hathaway pada akhirnya terbukti tidak bersalah atas kejahatan yang dituduhkan padanya. Jadi, pada dasarnya aku tidak menolong seorang penjahat. Tindakanku pada akhirnya menolong menemukan pembunuh yang sebenarnya.”

“Walaupun seperti itu, kami—dan kau—tidak tahu dia ‘tidak bersalah’ saat itu,” balasnya.

“Aku tahu,” kataku. “Tapi aku yakin dia tidak bersalah.”

Barnes mendengus. “Itulah masalahnya. Kau seharusnya percaya pada apa yang Alkemis katakan padamu, tidak malah percaya begitu saja dengan kesimpulan tidak masuk akalmu itu. Setidak-tidaknya, kau seharusnya menyampaikan bukti-bukti yang kau dapatkan kepada atasanmu.”

Bukti? Bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa bukan bukti yang menyebabkanku sangat ingin menolong Rose melainkan firasatku yang mengatakan dia berkata jujur? Namun, itu sesuatu yang aku tahu mereka tidak akan pernah mengerti. Kami semua dilatih untuk selalu berprasangka buruk kepada kaumya. Dengan mengatakan aku melihat kebenaran dan kejujuran dalam dirinya tidak akan membantu masalahku ini.

Mengatakan pada mereka aku diancam oleh vampir lain adalah penjelasan yang jauh lebih buruk. Hanya ada satu alasan yang mungkin Alkemis dapat pahami.

“A… Aku tidak memberi tahu siapa pun karena aku ingin hanya aku yang akan mendapat pujian. Aku berharap jika aku  membongkarnya, aku bisa dipromosikan dan mendapat tugas yang lebih baik.”

Dibutuhkan seluruh kendali diriku untuk mengatakan kebohongan itu dengan muka datar. Aku merasa dipermalukan dengan membuat pengakuan seperti itu. Seakan ambisi sungguh bisa mendorongku melakukan tindakan seekstrem itu! Itu membuatku merasa jijik dan rendah. Namun, seperti yang aku duga, itu sesuatu yang bisa dipahami oleh Alkemis lain.

Michaelson mendengus. “Sesat, namun tidak sepenuhnya mengejutkan dari gadis seumurannya.”

Pria-pria lain juga memberi pandangan merendahkan yang sama, bahkan ayahku. Hanya Stanton yang terlihat ragu, tetapi dia telah menyaksikan lebih banyak malapetaka dibanding mereka.

Ayahku melihat ke arah Alkemis lainnya, menunggu komentar selanjutnya. Saat tidak ada satu pun yang bicara, dia mengangkat bahunya. “Jika tidak ada yang keberatan, maka aku lebih memilih kita menggunakan Sydney. Walaupun aku tidak sepenuhnya mengerti kalian membutuhkan dia untuk apa.” Ada sedikit nada menyalahkan pada suaranya karena belum diterangkan. Jared Sage benci tidak dilibatkan.

“Aku tidak keberatan menggunakan si kakak,” ucap Barnes.

“Tapi biarkan adiknya tetap di sini sampai yang lain datang untuk berjaga-jaga jika mereka keberatan.” Aku penasaran berapa banyak “yang lain” yang akan bergabung dengan kami. Ruang kerja ayahku bukanlah stadion dan semakin banyak orang yang datang berarti semakin penting kasus ini. Kulitku terasa semakin dingin saat aku memikirkan kira-kira tugas apa ini. Aku telah melihat Alkemis menangani masalah besar dengan hanya menggunakan satu atau dua orang. Seberapa besarkah masalah ini hingga membutuhkan bantuan sebanyak ini?

Horowitz bicara untuk pertama kalinya. “Kalian ingin aku berbuat apa?”

“Tato ulang Sydney,” ucap Stanton dengan yakin. “Walaupun dia tidak pergi, tidak ada salahnya memperkuat mantranya. Tidak ada gunanya menato Zoe sampai kita tahu apa yang akan kita lakukan dengannya.”

Mataku mengedip ke arah pipi adikku yang telanjang dan pucat. Ya. Selama tidak ada bunga lili di sana, dia bebas. Sekali tato itu terpampang di kulitmu, tidak ada jalan untuk kembali. Kau telah menjadi milik Alkemis.

Aku menyadari kenyataan itu sekitar setahun yang lalu. Aku tidak pernah menyadarinya saat aku tumbuh dewasa. Ayahku telah membuatku terpesona sejak masih kecil pada kepatutan dari tugas kami. Aku masih percaya akan kepatutan itu tapi aku berharap dia dulu juga menyebut seberapa banyak pekerjaan ini akan memakan hidupku.

Horowitz telah mendirikan meja lipat di sisi seberang ruang kerja ayahku. Dia menepuknya dan tersenyum ramah ke arahku.

“Naiklah,” ucapnya padaku. “Dapatkan tiketmu.”

Barnes memberinya tatapan tidak setuju. “Tolong. Bisakah kau tunjukkan sedikit rasa hormat untuk ritual ini, David.”

Horowitz hanya mengangkat bahunya. Dia membantuku berbaring dan walaupun aku terlalu takut terhadap lainnya untuk membalas senyumnya secara terang-terangan, aku harap rasa terima kasihku terlihat di mataku. Satu senyuman lagi darinya memberitahuku dia mengerti. Aku palingkan kepalaku, menyaksikan Barnes dengan sopan meletakkan sebuah koper hitam di atas meja lain. Alkemis lainya berkumpul di sekililingku dan menggenggam kedua tangan mereka di hadapan diri mereka masing-masing. Aku baru sadar dia pasti padrinya. Sebagian besar Alkemis mempunyai akar ilmuwan, tetapi beberapa tugas membutuhkan bantuan Tuhan. Bagaimanapun juga, misi utama kami untuk melindungi manusia berakar dari kepercayaan bahwa vampir adalah mahluk tidak natural dan melawan rencana Tuhan. Karena itulah padri—pendeta kami—bekerja bersama ilmuwan kami.

“Ya Tuhan,” lantunnya, menutup matanya. “Berkatilah eliksir-eliksir ini. Hilangkan noda iblis yang terkandung di dalamnya agar kekuatan pemberi kehidupannya semata-mata bersinar melalui kami, hamba-Mu.”

Dia membuka koper itu dan mengeluarkan empat botol kecil, masing-masing berisi cairan merah tua. Setiap botol ditandai dengan label yang tidak bisa aku baca. Dengan tangan stabil dan mata yang terlatih, Barnes menuangkan sebagian isi dari masing-masing botol ke sebuah botol yang lebih besar dalam jumlah yang tepat.  Setelah dia selesai menuang dari keempatnya, dia mengeluarkan sebungkus kecil serbuk yang lalu dia tuangkan ke campuran itu.  Aku merasakan rasa geli di udara dan isi botol itu berubah warna menjadi emas. Dia memberikan botol itu kepada Horowitz yang berdiri siap memegang sebuah jarum. Semua orang menjadi tenang, bagian ritual telah selesai.

Aku dengan patuh berpaling, memamerkan pipiku. Tidak lama kemudian, bayangan Horowitz menutupiku. “Ini akan terasa sedikit sakit, tetapi tidak seperti saat pertama kali kau mendapatkannya. Ini hanya perbaikan kecil,” jelasnya lembut.

“Aku tahu,” ucapku. Aku sudah pernah ditato ulang. “Terima kasih.”

Jarum itu menusuk kulitku dan aku berusaha untuk tidak meringis. Memang terasa sakit, tetapi seperti yang dia katakan, Horowitz tidak membuat tato baru. Dia hanya menyuntikkan sedikit tinta ke tatoku yang sudah ada, mengisi ulang kekuatannya. Aku menganggap ini sebagai pertanda baik. Zoe mungkin masih belum terhindar dari bahaya, tetapi tentu saja mereka tidak akan susah payah menatoku ulang jika mereka hanya ingin mengirimku ke pusat pendidikan ulang.

“Bisakah kalian jelaskan pada kami apa yang terjadi selagi kita menunggu?” tanya ayahku. “Aku hanya diberi tahu kalian membutuhkan seorang gadis remaja.” Dia mengucapkannya seakan itu adalah peran yang bisa digunakan seenaknya. Aku berusaha menahan gelombang amarah pada ayahku. Hanya seperti itulah arti kami baginya.

“Kita punya situasi tertentu,” aku dengar Stanton berucap. Akhirnya, aku akan mendapat jawaban. “Dengan kaum Moroi.”

Aku mendesah lega. Lebih baik mereka daripada kaum Strigoi. “Situasi tertentu” apa pun yang Alkemis hadapi selalu berhubungan dengan salah satu ras vampir dan aku akan selalu memilih ras yang hidup dan tidak membunuh itu.  Terkadang mereka terlihat hampir seperti manusia (walaupun aku tidak pernah mengatakan itu kepada siapa pun di sini) dan hidup dan mati seperti kami. Akan tetapi, Strigoi adalah kejanggaan alam yang gila. Mereka mayat hidup, vampir pembunuh yang diciptakan baik saat seorang Strigoi memaksa korbannya meminum darahnya atau saat seorang Moroi dengan sengaja membunuh seseorang dengan meminum darahnya. Masalah dengan Strigoi biasanya berujung dengan seseorang terbunuh.

Semua skenario yang memungkinkan bermain dalam benakku saat aku memikirkan persoalan apa yang mendesak tindakan dari Alkemis malam ini: manusia yang menyadari seseorang memiliki taring, donor yang kabur dan tersorot publik, Moroi yang ditangani oleh dokter manusia…. Itu adalah masalah-masalah yang paling sering Alkemis hadapi, masalah-masalah yang aku telah terlatih untuk menanganinya dan bisa kututupi dengan mudah. Alasan kenapa mereka membutuhkan “seorang gadis remaja” untuk masalah seperti itu, akan tetapi, masih menjadi sebuah misteri.

“Kau tahu mereka baru saja memilih ratu gadis mereka bulan kemarin,” ucap Barnes. Aku bisa melihat matanya berputar.

Semua orang di ruangan berbisik setuju. Tentu saja mereka tahu tentang itu. Alkemis sangat memperhatikan keadaan politik kaum Moroi. Mengetahui apa yang dilakukan para vampir sangatlah penting untuk merahasiakan mereka dari manusia lainnya—dan menjaga manusia lain dari mereka. Itulah tujuan kami, untuk melindungi saudara-saudara kami. Mengenal musuhmu adalah hal yang kami anggap sangat serius.

Gadis yang kaum Moroi pilih sebagai ratu, Vasilisa Dragomir, berumur 18 tahun, sama sepertiku.

“Jangan tegang,” ucap Horowitz pelan.

Aku tidak sadar aku tegang. Aku berusaha untuk tenang, tetapi memikirkan Vasilisa Dragomir membuatku berpikir tentang Rose Hathaway.

Gelisah, aku bertanya-tanya mungkin seharusnya aku tidak cepat mengira aku sudah terbebas dari masalah. Untungnya, Barnes hanya meneruskan ceritanya, tidak menyebut kaitan tidak langsungku dengan si ratu gadis dan teman-temannya.

“Sama mengejutkannya bagi kita, itu juga mengejutkan bagi sebagian kaum mereka. Sudah banyak terjadi protes dan pembangkangan. Belum ada yang mencoba menyerang gadis Dragomir itu, tetapi mungkin karena dia dijaga dengan ketat. Musuh-musuhnya, tampaknya, telah menemukan jalan lain: adiknya.”

“Jill,” aku bicara sebelum bisa menghentikan diriku. Horowitz kesal karena aku bergerak dan aku langsung menyesal menarik perhatian pada diriku dan pengetahuanku tentang kaum Moroi.

Bagaimanapun, bayangan Jill sekejap muncul dalam pikiraanku, tinggi dan kurus menyebalkan seperti Moroi lainnya dengan mata besar berwarna hijau dan pucat yang selalu terlihat gugup. Dan dia punya alasan bagus untuk gugup. Saat berumur 15 tahun, Jill mengetahui dirinya adalah adik haram Vasilisa, membuatnya menjadi satu-satunya anggota dari garis keluarga kerajaan mereka. Dia juga terlibat dalam kekacauan yang kulakukan musim panas ini.

“Kalian tahu hukum mereka,” lanjut Stanton, setelah keheningan yang canggung. Gaya bicaranya menyampaikan pendapat kami tentang hukum Moroi. Pemimpin kerajaan yang dipilih? Itu tidak masuk akal, tetapi apa lagi yang bisa diharapkan dari mahluk aneh seperti vampir? “Dan Vasilisa harus memiliki seorang anggota keluarga agar bisa mempertahankan takhtanya. Oleh karena itu, musuh-musuhnya telah memutuskan jika mereka tidak bisa menyingkirkannya secara langsung, mereka akan menyingkirkan keluarganya.”

Rasa dingin merasuk ke punggungku memahami makna yang tersirat dan lagi-lagi aku berkomentar tanpa berpikir. “Apa sesuatu terjadi pada Jill?” Kali ini, aku setidaknya memilih waktu saat Horowitz mengisi ulang jarumnya, jadi aku tidak berisiko mengacaukan tatonya.

Aku menggigit bibirku untuk mencegah diriku mengatakan hal lain, membayangkan celaan di mata ayahku. Menunjukkan kepedulian pada seorang Moroi adalah hal terakhir yang ingin kulakukan, mengingat statusku yang belum jelas. Aku tidak dekat dengan Jill, tetapi memikirkan seseorang berusaha membunuh gadis berumur 15 tahun—seumuran dengan Zoe—sangat mengerikan, tidak peduli apa rasnya.

“Itulah yang tidak jelas,” pikir Stanton. “Kami tahu dia diserang, tetapi kami tidak tahu apakah dia benar-benar terluka. Bagaimanapun juga, kini dia baik-baik saja, tetapi percobaan pembunuhan itu terjadi di istana mereka sendiri, menandakan ada pengkhianat di tingkat tinggi.”

Barnes mendengus jijik. “Apa yang bisa kau harapkan? Aku tidak habis pikir bagaimana ras menggelikan mereka dapat berhasil bertahan hidup hingga saat ini tanpa membunuh satu sama lain.”

Terdengar gumaman persetujuan.

“Tidak peduli menggelikan atau tidak, kita tidak bisa membiarkan mereka mengalami perang saudara,” ucap Stanton. “Beberapa Moroi telah menunjukkan protes mereka, cukup terang-terangan hingga mereka menarik perhatian media manusia. Kita tidak dapat membiarkan itu. Kita perlu pemerintahan mereka stabil dan itu berarti menjamin keselamatan gadis ini. Mungkin mereka tidak bisa memercayai kaum mereka sendiri, tetapi mereka bisa memercayai kita.”

Tidak ada gunanya jika aku mengungkapkan kaum Moroi tidak sepenuhnya memercayai Alkemis. Namun, karena kami tidak tertarik membunuh pemimpin Moroi atau keluarganya, aku rasa itu membuat kami lebih dapat dipercaya dibanding beberapa pihak lainnya.

“Kita perlu menyembunyikan gadis itu,” ucap Michaelson.

“Setidaknya sampai Moroi dapat mencabut hukum yang membuat takhta Vasilisa sangat rentan. Menyembunyikan Mastrano dengan kaumnya sendiri saat ini tidak aman, jadi kita perlu menyembunyikannya di antara manusia.” Penghinaan menitis dari kata-katanya. “Tapi dia juga harus tetap dirahasiakan dari manusia. Ras kita tidak boleh tahu mereka ada.”

“Setelah konsultasi dengan para Penjaga, kami telah memilih sebuah lokasi yang kami percaya akan aman untuknya—baik dari Moroi maupun Strigoi,” ucap Stanton. “Namun, untuk memastikan dia—dan orang-orang yang ikut bersamanya—tetap tidak terlacak, kami akan membutuhkan bantuan Alkemis yang didedikasikan sepenuhnya demi kebutuhannya jika timbul masalah.”

Ayahku mengejek. “Itu menyia-nyiakan sumber daya kita. Ditambah itu terlalu berat bagi siapa pun yang harus tinggal bersamanya.”

Aku punya firasat buruk tentang apa yang akan terjadi.

“Di sanalah Sydney turun tangan,” ucap Stanton. “Kami ingin dia menjadi salah satu Allkemis yang menemani Jill bersembunyi.”

“Apa?” seru ayahku. “Kau pasti bercanda.”

“Kenapa tidak?” Nada bicara Stanton tenang dan datar. “Mereka seumuran, jadi jika mereka terus bersama-sama, tidak akan menimbulkan kecurigaan. Dan Sydney telah mengenal gadis itu. Tentu saja menghabiskan waktu bersamanya tidak akan sama ‘terlalu berat’-nya bagi Alkemis lain.”

Apa yang tersirat sangatlah jelas. Aku tidak terbebas dari masa laluku, belum. Horowitz berhenti dan mengangkat jarumnya, memberikanku kesempatan untuk bicara. Pikiranku berpacu cepat. Ada beberapa respon yang diharapkan. Aku tidak ingin terdengar terlalu kecewa dengan rencana itu. Aku perlu memperbaiki nama baikku di antara Alkemis dan menunjukkan keinginanku mematuhi perintah. Meskipun begitu, aku juga tidak ingin terdengar seakan aku terlalu nyaman bersama vampir ataupun pasangan setengah manusia mereka, dhampir.

“Menghabiskan waktu dengan salah satu dari mereka tidak pernah menyenangkan,” ucapku perlahan, menjaga suaraku tetap tenang dan angkuh. “Tidak peduli berapa lama kau melakukannya. Tapi aku akan lakukan apa pun yang dibutuhkan untuk menjaga kita—dan lainnya—tetap aman.” Aku tidak perlu menjelaskan bahwa “lainnya” berarti manusia.

“Kau lihat itu Jared?” Barnes terdengar puas dengan jawabanku. “Gadis itu tahu tugasnya. Kami telah mengatur beberapa hal yang seharusnya dapat membuat semuanya berjalan lancar dan kami tentunya tidak akan mengirim dia ke sana sendirian—terutama karena gadis Moroi itu juga tidak akan sendirian.”

“Apa maksudmu?” Ayahku masih terdengar tidak senang dengan ini semua dan aku penasaran apa yang paling membuatnya kesal. Apa dia sungguh berpikir aku akan berada dalam bahaya? Atau dia hanya khawatir menghabiskan lebih banyak waktu dengan Moroi akan semakin mengubah kesetiaanku? “Berapa banyak dari pihak mereka yang akan ikut?”

“Mereka mengirim seorang dhampir,” ucap Michaelson. “Salah satu Penjaga mereka, yang sama sekali tidak membuatku keberatan. Lokasi yang kami telah pilih seharusnya bebas dari Strigoi, tetapi jika tidak, lebih baik mereka yang menghadapi monster itu, bukan kita.” Para Penjaga adalah dhampir yang dilatih secara khusus untuk menjadi pengawal.

“Sudah selesai,” ucap Horowitz padaku, menjauh. “Kau boleh duduk.”

Aku mematuhinya dan menahan keinginan untuk menyentuh pipiku. Satu-satunya yang kurasakan adalah rasa perih dari jarumnya, tetapi aku tahu sihir kuat itu tengah memasuki tubuhku. Sihir yang akan memberikanku sistem imun manusia super dan mencegahku bicara mengenai vampir kepada manusia biasa. Aku berusaha tidak memikirkan hal lain,  seperti tentang dari mana asal sihir itu. Tato ini  diperlukan.

Yang lain tetap berdiri, tidak memperhatikanku—kecuali Zoe. Dia masih terlihat bingung dan ketakutan dan terus melirik ke arahku dengan gelisah.

“Mungkin juga ada satu Moroi lagi yang akan ikut,” lanjut Stanton, “Sejujur, aku tidak yakin apa alasannya, tetapi mereka bersikeras dia harus bersama Mastrano. Kami mengatakan pada mereka semakin sedikit orang yang harus kami sembunyikan akan semakin baik, tetapi… mereka tampaknya berpikir itu diperlukan dan mengatakan mereka akan mengatur beberapa hal untuknya di sana. Aku rasa dia seorang Ivashkov. Tidak penting.”

“Di sana di mana?” tanya ayahku. “Kalian ingin mengirimnya ke mana?”

Pertanyaan yang sangat bagus. Aku sedari tadi bertanya-tanya tentang hal yang sama.

Pekerjaan penuh waktu pertamaku untuk Alkemis mengirimku ke sisi seberang dunia, ke Rusia. Jika Alkemis bermaksud menyembunyikan Jill, tidak bisa ditebak ke lokasi terpencil apa mereka akan mengirimnya. Sejenak aku memberanikan diri berharap kami pada akhirnya akan pergi ke kota impianku: Roma. Karya-karya seni legendaris dan makanan Italia sepertinya cara yang bagus untuk mengimbangi dokumen dan vampir.

“Palm Springs,” ucap Barnes.

“Palm Springs?” balasku. Itu bukan tempat yang aku sangka. Saat aku berpikir tentang Palm Springs, aku berpikir tentang bintang-bintang film dan lapangan golf. Bukan liburan ala Roma, atapun Kutub Utara.

Sebuah senyuman kecil dan masam dibentuk oleh bibir Stanton. “Kota itu berada di gurun dan menerima banyak sinar matahari. Sangat berbahaya bagi Strigoi”.

“Bukankah juga akan berbahaya bagi Moroi?” tanyaku berpikir ke depan. Moroi terbakar oleh sinar matahari seperti Strigoi, tapi penyinaran berlebihan tentu masih membuat Moroi lemah dan sakit.

“Benar,” aku Stanton. “Tapi sedikit ketidaknyamanan  sebanding dengan keamanan yang didapatkan. Jadi, asalkan Moroi menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam ruangan, itu tidak akan menjadi masalah. Ditambah, itu akan mencegah Moroi lain datang dan—”

Suara pintu mobil terbuka dan tertutup dari luar jendela menarik perhatian semua orang. “Ah,” ucap Michaelson. “Yang lain telah tiba. Aku akan mempersilakan mereka masuk.”

Dia keluar dari ruang kerja dan sepertinya berjalan menuju pintu depan untuk menyambut siapa pun yang baru saja tiba.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar sebuah suara baru bicara saat Michaelson kembali.

“Ayah tidak bisa datang, jadi dia hanya mengirimku,” ucap suara baru itu.

Pintu ruang kerja terbuka dan jantungku berhenti berdetak.

Tidak, pikirku. Siapa pun kecuali dia.

“Jared,” ucap pendatang baru itu, menarik tatapan ayahku.

“Senang bertemu denganmu lagi.”

Ayahku, yang hampir tidak meluangkan waktu untuk menatapku sekali pun semalaman, benar-benar tersenyum. “Keith!  Aku terus bertanya-tanya di mana kau selama ini.” Mereka berdua berjabat tangan dan gelombang rasa jijik menjalar dalam tubuhku.

“Ini Keith Darnel,” ucap Michaelson, memperkenalkannya kepada yang lain.

“Putra Tom Darnel?”  tanya Barnes, terkesan. Tom Darnel adalah seorang pemimpin legenda di antara para Alkemis.

“Benar,” ucap Keith riang. Dia sekitar lima tahun lebih tua dariku, dengan rambut pirang yang satu tingkat lebih terang daripada rambutku. Aku tahu banyak perempuan menganggapnya menarik. Aku? Aku menganggapnya hina. Dia adalah orang terakhir yang aku kira akan kulihat di sini.

“Dan aku yakin kau mengenal Sage bersaudari,” tambah Michaelson.

Keith pertama mengarahkan mata birunya ke arah Zoe, mata yang warnanya sedikit berbeda dari satu dan lainnya. Salah satu matanya, yang terbuat dari gelas, menatap kosong ke depan dan tidak bergerak sama sekali.

Mata lainnya mengedip ke arahnya saat senyumnya melebar.

Dia masih bisa mengedip, pikirku geram. Kedipan menyebalkan, bodoh, dan merendahkan itu! Lagi pula, kenapa dia tidak akan berkedip?

Kami semua mendengar tentang kecelakaan yang dia alami tahun ini, sebuah keceakaan yang menyebabkan dia kehilangan salah satu matanya. Dia masih  selamat dengan satu mata, tetapi entah mengapa, di dalam pikiranku, aku berpikir kehilangan salah satu mata akan menghentikan kedipan menyebalkan itu.

“Zoe kecil! Lihat dirimu, kau sudah besar,”  ucapnya dengan penuh kasih sayang. Aku bukan orang kasar, sama sekali bukan, tetapi aku tiba-tiba ingin memukulnya karena melihat adikku seperti itu.

Dia tersenyum padanya, terlihat jelas merasa lega melihat wajah familiar di sini. Akan tetapi, saat Keith berbalik ke arahku, semua pesona dan keramahan itu pudar. Kami sama-sama merasakan hal yang sama.

Kobaran kebencian kelam yang tumbuh di dalam diriku sangatlah luar biasa hingga membuatku membutuhkan waktu sejenak untuk memikirkan sebuah respon. “Halo, Keith,” ucapku kaku.

Keith bahkan tidak mencoba menandingi kesopananku yang dipaksakan. Dia langsung berbalik ke arah para Alkemis senior. “Apa yang dia lakukan di sini?”

“Kami tahu kau meminta Zoe,” ucap Stanton datar, “tapi  setelah mempertimbangkannya, kami memutuskan akan lebih baik jika Sydney yang memenuhi peran ini. Pengalamannya mengalahkan kekhawatiran apapun tentang tindakan dia sebelumnya.”

“Tidak,” tangkas Keith, mengarahkan tatapan biru seperti baja itu padaku. “Tidak mungkin dia ikut, tidak mungkin aku memercayai seorang pencinta vampir untuk mengacaukan ini untuk kita semua. Kita akan bawa adiknya.”


Chapter 1

I COULDN’T BREATHE.

There was a hand covering my mouth and another shaking my shoulder, startling me out of a heavy sleep. A thousand frantic thoughts dashed through my mind in the space of a single heartbeat. It was happening. My worst nightmare was coming true.

They’re here! They’ve come for me!

My eyes blinked, staring wildly around the dark room until my father’s face came into focus. I stilled my thrashing, thoroughly confused. He let go and stepped back to regard me coldly. I sat up in the bed, my heart still pounding.

“Dad?”

“Sydney. You wouldn’t wake up.”

Naturally, that was his only apology for scaring me to death.

“You need to get dressed and make yourself presentable,” he continued. “Quickly and quietly. Meet me downstairs in the study.”

I felt my eyes widen but didn’t hesitate with a response. There was only one acceptable answer. “Yes, sir. Of course.”

“I’l go wake your sister.” He turned for the door, and I leapt out of bed.

“Zoe?” I exclaimed. “What do you need her for?”

“Shh,” he chastised. “Hurry up and get ready. And remember—be quiet. Don’t wake your mother.”

He shut the door without another word, leaving me staring. The panic that had only just subsided began to surge within me again. What did he need Zoe for? A late-night wake-up meant Alchemist business, and she had nothing to do with that. Technical y, neither did I anymore, not since I’d been put on indefinite suspension for bad behavior this summer. What if that’s what this was about?

What if I was final y being taken to a re-education center and Zoe was replacing me?

For a moment, the world swam around me, and I caught hold of my bed to steady myself. Re-education centers.

They were the stuff of nightmares for young Alchemists like me, mysterious places where those who grew too close to vampires were dragged off to learn the errors of their ways.

What exactly went on there was a secret, one I never wanted to find out. I was pretty sure “re-education” was a nice way of saying “brainwashing.” I’d only ever seen one person who had come back, and honestly, he’d seemed like half a person after that. There’d been an almost zombielike quality to him, and I didn’t even want to think about what they might have done to make him that way.

My father’s urging to hurry up echoed back through my mind, and I tried to shake off my fears. Remembering his other warning, I also made sure I moved silently. My mother was a light sleeper. Normal y, it wouldn’t matter if she caught us going off on Alchemist errands, but lately, she hadn’t been feeling so kindly toward her husband’s (and daughter’s) employers. Ever since angry Alchemists had deposited me on my parents’ doorstep last month, this household had held all the warmth of a prison camp.

Terrible arguments had gone down between my parents, and my sister Zoe and I often found ourselves tiptoeing around.

Zoe.

Why does he need Zoe?

The question burned through me as I scurried to get ready. I knew what “presentable” meant. Throwing on jeans and a T-shirt was out of the question. Instead, I tugged on gray slacks and a crisp, white button-down shirt. A darker, charcoal gray cardigan went over it, which I cinched neatly at my waist with a black belt. A small gold cross—the one I always wore around my neck—was the only ornamentation I ever bothered with.

My hair was a slightly bigger problem. Even after only two hours of sleep, it was already going in every direction. I smoothed it down as best I could and then coated it with a thick layer of hair spray in the hopes that it would get me through whatever was to come. A light dusting of powder was the only makeup I put on. I had no time for anything more.

The entire process took me all of six minutes, which might have been a new record for me. I sprinted down the stairs in perfect silence, careful, again, to avoid waking my mother. The living room was dark, but light spilled out past the not-quite-shut door of my father’s study. Taking that as an invitation, I pushed the door open and slipped inside. A hushed conversation stopped at my entrance. My father eyed me from head to toe and showed his approval at my appearance in the way he knew best: by simply withholding criticism.

“Sydney,” he said brusquely. “I believe you know Donna Stanton.”

The formidable Alchemist stood near the window, arms crossed, looking as tough and lean as I remembered. I’d spent a lot of time with Stanton recently, though I would hardly say we were friends—especial y since certain actions of mine had ended up putting the two of us under a sort of “vampire house arrest.” If she harbored any resentment toward me, she didn’t show it, though. She nodded to me in polite greeting, her face all business.

Three other Alchemists were there as well , all men. They were introduced to me as Barnes, Michaelson, and Horowitz. Barnes and Michaelson were my father and Stanton’s age. Horowitz was younger, mid-twenties, and was setting up a tattooist’s tools. Al of them were dressed like me, wearing business casual clothing in nondescript colors. Our goal was always to look nice but not attract notice. The Alchemists had been playing Men in Black for centuries, long before humans dreamed of life on other worlds. When the light hit their faces the right way, each Alchemist displayed a lily tattoo identical to mine.

Again, my unease grew. Was this some kind of interrogation? An assessment to see if my decision to help a renegade half-vampire girl meant my loyalties had changed? I crossed my arms over my chest and schooled my face to neutrality, hoping I looked cool and confident. If I still had a chance to plead my case, I intended to present a solid one.

Before anyone could utter another word, Zoe entered. She shut the door behind her and peered around in terror, her eyes wide. Our father’s study was huge—he’d built an addition on to our house for it—and it easily held all the occupants. But as I watched my sister take in the scene, I knew she felt stifled and trapped. I met her eyes and tried to send a silent message of sympathy. It must have worked because she scurried to my side, looking only fractionally less afraid.

“Zoe,” said my father. He let her name hang in the air in this way he had, making it clear to both of us that he was disappointed. I could immediately guess why. She wore jeans and an old sweatshirt and had her brown hair in two cute but sloppy braids. By any other person’s standards, she would have been “presentable”—but not by his. I felt her cower against me, and I tried to make myself taller and more protective. After making sure his condemnation was felt, our father introduced Zoe to the others. Stanton gave her the same polite nod she’d given me and then turned toward my father.

“I don’t understand, Jared,” said Stanton. “Which one of them are you going to use?”

“Well, that’s the problem,” my father said. “Zoe was requested… but I’m not sure she’s ready. In fact, I know she isn’t. She’s only had the most basic of training. But in light of Sydney’s recent… experiences…” My mind immediately began to pull the pieces together.

First, and most importantly, it seemed I wasn’t going to be sent to a re-education center. Not yet, at least. This was about something else. My earlier suspicion was correct.

There was some mission or task afoot, and someone wanted to sub in Zoe because she, unlike certain other members of her family, had no history of betraying the Alchemists. My father was right that she’d only received basic instruction. Our jobs were hereditary, and I had been chosen years ago as the next Alchemist in the Sage family.

My older sister, Carly, had been passed over and was now away at col ege and too old. He’d taught Zoe as backup instead, in the event something happened to me, like a car accident or vampire mauling.

I stepped forward, not knowing what I was going to say until I spoke. The only thing I knew for sure was that I could not let Zoe get sucked into the Alchemists’ schemes. I feared for her safety more than I did going to a re-education center—and I was pretty afraid of that. “I spoke to a committee about my actions after they happened,” I said. “I was under the impression that they understood why I did the things I did. I’m fully qualified to serve in whatever way you need—much more so than my sister. I have real-world experience. I know this job inside and out.”

“A little too much real-world experience, if memory serves,” said Stanton dryly.

“I for one would like to hear these ‘reasons’ again,” said Barnes, using his fingers to make air quotes. “I’m not thrilled about tossing a half-trained girl out there, but I also find it hard to believe someone who aided a vampire criminal is ‘fully qualified to serve.’” More pretentious air quotes.

I smiled back pleasantly, masking my anger. If I showed my true emotions, it wouldn’t help my case. “I understand, sir. But Rose Hathaway was eventually proven innocent of the crime she’d been accused of. So, I wasn’t technically aiding a criminal. My actions eventually helped find the real murderer.”

“Be that as it may, we—and you—didn’t know she was ‘innocent’ at the time,” he said.

“I know,” I said. “But I believed she was.”

Barnes snorted. “And there’s the problem. You should’ve believed what the Alchemists told you, not run off with your own far-fetched theories. At the very least, you should’ve taken what evidence you’d gathered to your superiors.”

Evidence? How could I explain that it wasn’t evidence that had driven me to help Rose so much as a feeling in my gut that she was tel ing the truth? But that was something I knew they’d never understand. Al of us were trained to believe the worst of her kind. Telling them that I had seen truth and honesty in her wouldn’t help my cause here.

Tel ing them that I’d been blackmailed into helping her by another vampire was an even worse explanation. There was only one argument that the Alchemists might possibly be able to comprehend.

“I … I didn’t tell anyone because I wanted to get al the credit for it. I was hoping that if I uncovered it, I could get a promotion and a better assignment.”

It took every ounce of self-control I had to say that lie straight-faced. I felt humiliated at making such an admission. As though ambition would real y drive me to such extreme behaviors! It made me feel slimy and shal ow. But, as I’d suspected, this was something the other Alchemists could understand.

Michaelson snorted. “Misguided, but not entirely unexpected for her age.”

The other men shared equal y condescending looks, even my father. Only Stanton looked doubtful, but then, she’d witnessed more of the fiasco than they had.

My father glanced among the others, waiting for further comment. When none came, he shrugged. “If no one has any objections, then, I’d rather we use Sydney. Not that I even entirely understand what you need her for.” There was a slightly accusing tone in his voice over not having been filled in yet. Jared Sage didn’t like to be left out of the loop.

“I have no problem with using the older girl,” said Barnes.

“But keep the younger one around until the others get here, in case they have any objections.” I wondered how many “others” would be joining us. My father’s study was no stadium. Also, the more people who came, the more important this case probably was. My skin grew cold as I wondered what the assignment could possibly be. I’d seen the Alchemists cover up major disasters with only one or two people. How colossal would something have to be to require this much help?

Horowitz spoke up for the first time. “What do you want me to do?”

“Re-ink Sydney,” said Stanton decisively. “Even if she doesn’t go, it won’t hurt to have the spells reinforced. No point in inking Zoe until we know what we’re doing with her.”

My eyes flicked to my sister’s noticeably bare—and pale—cheeks. Yes. As long as there was no lily there, she was free. Once the tattoo was emblazoned on your skin, there was no going back. You belonged to the Alchemists.

The reality of that had only hit me in the last year or so. I’d certainly never realized it while growing up. My father had dazzled me from a very young age about the rightness of our duty. I still believed in that rightness but wished he’d also mentioned just how much of my life it would consume.

Horowitz had set up a folding table on the far side of my father’s study. He patted it and gave me a friendly smile.

“Step right up,” he told me. “Get your ticket.”

Barnes shot him a disapproving look. “Please. You could show a little respect for this ritual, David.”

Horowitz merely shrugged. He helped me lie down, and though I was too afraid of the others to openly smile back, I hoped my gratitude showed in my eyes. Another smile from him told me he understood. Turning my head, I watched as Barnes reverently set a black briefcase on a side table. The other Alchemists gathered around and clasped their hands together in front of them. He must be the hierophant, I realized. Most of what the Alchemists did was rooted in science, but a few tasks required divine assistance. After all, our core mission to protect humanity was rooted in the belief that vampires were unnatural and went against God’s plan. That’s why hierophants—our priests—worked side by side with our scientists.

“Oh Lord,” he intoned, closing his eyes. “Bless these elixirs. Remove the taint of the evil they carry so that their life-giving power shines through purely to us, your servants.”

He opened the briefcase and removed four smal vials, each filled with dark red liquid. Labels that I couldn’t read marked each one. With a steady hand and practiced eye, Barnes poured precise amounts from each vial into a larger bottle. When he’d used all four, he produced a tiny packet of powder that he emptied into the rest of the mix. I felt a tingle in the air, and the bottle’s contents turned to gold. He handed the bottle to Horowitz, who stood ready with a needle. Everyone relaxed, the ceremonial part complete.

I obediently turned away, exposing my cheek. A moment later, Horowitz’s shadow fell over me. “This wil sting a little, but nothing like when you original y got it. It’s just a touch-up,” he explained kindly.

“I know,” I said. I’d been re-inked before. “Thanks.”

The needle pricked my skin, and I tried not to wince. It did sting, but like he’d said, Horowitz wasn’t creating a new tattoo. He was simply injecting smal amounts of the ink into my existing tattoo, recharging its power. I took this as a good sign. Zoe might not be out of danger yet, but surely they wouldn’t go to the trouble of re-inking me if they were just going to send me to a re-education center.

“Can you brief us on what’s happening while we’re waiting?” asked my father. “All I was told was that you needed a teen girl.” The way he said it made it sound like a disposable role. I fought back a wave of anger at my father. That’s all we were to him.

“We have a situation,” I heard Stanton say. Finally, I’d get some answers. “With the Moroi.”

I breathed a small sigh of relief. Better them than the Strigoi. Any “situation” the Alchemists faced always involved one of the vampire races, and I’d take the living, non-killing ones any day. They almost seemed human at times (though I’d never tel anyone here that) and lived and died like we did. Strigoi, however, were twisted freaks of nature. They were undead, murderous vampires created either when a Strigoi forcibly made a victim drink its blood or when a Moroi purposely took the life of another through blood drinking. A situation with the Strigoi usually ended with someone dead.

Al sorts of possible scenarios played through my mind as I considered what issue had prompted action from the Alchemists tonight: a human who had noticed someone with fangs, a feeder who had escaped and gone public, a Moroi treated by human doctors…. Those were the kinds of problems we Alchemists faced the most, ones I had been trained to handle and cover up with ease. Why they would need “a teenage girl” for any of those, however, was a mystery.

“You know that they elected their girl queen last month,” said Barnes. I could practical y see him rolling his eyes.

Everyone in the room murmured affirmatively. Of course they knew about that. The Alchemists paid careful attention to the political goings-on of the Moroi. Knowing what vampires were doing was crucial to keeping them secret from the rest of humanity—and keeping the rest of humanity safe from them. That was our purpose, to protect our brethren. Know thy enemy was taken very seriously with us.

The girl the Moroi had elected queen, Vasilisa Dragomir, was eighteen, just like me.

“Don’t tense,” said Horowitz gently.

I hadn’t realized I had been. I tried to relax, but thinking of Vasilisa Dragomir made me think of Rose Hathaway.

Uneasily, I wondered if maybe I shouldn’t have been so quick to assume I was out of trouble here. Mercifuly, Barnes simply kept going with the story, not mentioning my indirect connection to the girl queen and her associates.

“Wel , as shocking as that is to us, it’s been just as shocking to some of their own people. There’s been a lot of protests and dissidence. No one’s tried to attack the Dragomir girl, but that’s probably because she’s so wel guarded. Her enemies, it seems, have therefore found a work-around: her sister.”

“Jil ,” I said, speaking before I could stop myself. Horowitz tsked me for moving, and I immediately regretted drawing attention to myself and my knowledge of the Moroi.

Nevertheless, an image of Jil ian Mastrano flashed into my mind, tal and annoyingly slim like al Moroi, with big, pale green eyes that always seemed nervous. And she had good reason to be. At fifteen, Jil had discovered she was Vasilisa’s il egitimate sister, making her the only other member of their royal family’s line. She too was tied to the mess I’d gotten myself into this summer.

“You know their laws,” continued Stanton, after a moment of awkward silence. Her tone conveyed what we al thought of Moroi laws. An elected monarch? It made no sense, but what else could one expect from unnatural beings like vampires? “And Vasilisa must have one family member in order to hold her throne. Therefore, her enemies have decided if they can’t directly remove her, they’ll remove her family.”

A chill ran down my spine at the unspoken meaning, and I again commented without thinking. “Did something happen to Jill?” This time, I’d at least chosen a moment when Horowitz was refilling his needle, so there was no danger of messing up the tattoo.

I bit my lip to prevent myself from saying anything else, imagining the chastisement in my father’s eyes. Showing concern for a Moroi was the last thing I wanted to do, considering my uncertain status. I didn’t have any strong attachment to Jill, but the thought of someone trying to kil a fifteen-year-old girl—the same age as Zoe—was appalling, no matter what race she belonged to.

“That’s what’s unclear,” Stanton mused. “She was attacked, we know that much, but we can’t tell if she received any real injury. Regardless, she’s fine now, but the attempt happened at their own Court, indicating they have traitors at high levels.”

Barnes snorted in disgust. “What can you expect? How their ridiculous race has managed to survive as long as they have without turning on each other is beyond me.”

There were mutters of agreement.

“Ridiculous or not, though, we cannot have them in civil war,” said Stanton. “Some Moroi have acted out in protest, enough that they’ve caught the attention of human media. We can’t allow that. We need their government stable, and that means ensuring this girl’s safety. Maybe they can’t trust themselves, but they can trust us.”

There was no use in my pointing out that the Moroi didn’t really trust the Alchemists. But, since we had no interest in killing off the Moroi monarch or her family, I supposed that made us more trustworthy than some.

“We need to make the girl disappear,” said Michaelson.

“At least until the Moroi can undo the law that makes Vasilisa’s throne so precarious. Hiding Mastrano with her own people isn’t safe at the moment, so we need to conceal her among humans.” Disdain dripped from his words. “But it’s imperative she also remains concealed from humans. Our race cannot know theirs exists.”

“After consultation with the guardians, we’ve chosen a location we all believe wil be safe for her—both from Moroi and Strigoi,” said Stanton. “However, to make sure she—and those with her—remain undetected, we’re going to need Alchemists on hand, dedicated solely to her needs in case any complications come up.”

My father scoffed. “That’s a waste of our resources. Not to mention unbearable for whoever has to stay with her.”

I had a bad feeling about what was coming.

“This is where Sydney comes in,” said Stanton. “We’d like her to be one of the Alchemists that accompanies Jillian into hiding.”

“What?” exclaimed my father. “You can’t be serious.”

“Why not?” Stanton’s tone was calm and level. “They’re close in age, so being together won’t raise suspicion. And Sydney already knows the girl. Surely spending time with her won’t be as ‘unbearable’ as it might be for other Alchemists.”

The subtext was loud and clear. I wasn’t free of my past, not yet. Horowitz paused and lifted the needle, allowing me the chance to speak. My mind raced. Some response was expected. I didn’t want to sound too upset by the plan. I needed to restore my good name among the Alchemists and show my willingness to fol ow orders. That being said, I also didn’t want to sound as though I were too comfortable with vampires or their half-human counterparts, the dhampirs.

“Spending time with any of them is never fun,” I said carefully, keeping my voice cool and haughty. “Doesn’t matter how much you do it. But I’ll do whatever’s necessary to keep us—and everyone else—safe.” I didn’t need to explain that “everyone” meant humans.

“There, you see, Jared?” Barnes sounded pleased with the answer. “The girl knows her duty. We’ve made a number of arrangements already that should make things run smoothly, and we certainly wouldn’t send her there alone—especially since the Moroi girl won’t be alone either.”

“What do you mean?” My father still didn’t sound happy about any of this, and I wondered what was upsetting him the most. Did he truly think I might be in danger? Or was he simply worried that spending more time with the Moroi would turn my loyalties even more? “How many of them are coming?”

“They’re sending a dhampir,” said Michaelson. “One of their guardians, which I really don’t have a problem with. The location we’ve chosen should be Strigoi free, but if it’s not, better they fight those monsters than us.” The guardians were specially trained dhampirs who served as bodyguards.

“There you are,” Horowitz told me, stepping back. “You can sit up.”

I obeyed and resisted the urge to touch my cheek. The only thing I felt from his work was the needle’s sting, but I knew powerful magic was working its way through me, magic that would give me a superhuman immune system and prevent me from speaking about vampire affairs to ordinary humans. I tried not to think about the other part, about where that magic came from. The tattoos were a necessary evil.

The others were stil standing, not paying attention to me—well, except for Zoe. She still looked confused and afraid and kept glancing anxiously my way.

“There also may be another Moroi coming along,” continued Stanton. “Honestly, I’m not sure why, but they were very insistent he be with Mastrano. We told them the fewer of them we had to hide, the better, but … well, they seemed to think it was necessary and said they’d make arrangements for him there. I think he’s some Ivashkov. Irrelevant.”

“Where is there?” asked my father. “Where do you want to send her?”

Excel ent question. I’d been wondering the same thing.

My first full-time job with the Alchemists had sent me halfway around the world, to Russia. If the Alchemists were intent on hiding Jill, there was no telling what remote location they’d send her to. For a moment, I dared to hope we might end up in my dream city: Rome. Legendary works of art and Italian food seemed like a good way to offset paperwork and vampires.

“Palm Springs,” said Barnes.

“Palm Springs?” I echoed. That was not what I’d been expecting. When I thought of Palm Springs, I thought of movie stars and golf courses. Not exactly a Roman holiday, but not the Arctic either.

A small , wry smile tugged at Stanton’s lips. “It’s in the desert and receives a lot of sunlight. Completely undesirable for Strigoi.”

“Wouldn’t it be undesirable for Moroi too?” I asked, thinking ahead. Moroi didn’t incinerate in the sun like Strigoi, but excessive exposure to it still made Moroi weak and sick.

“Well, yes,” admitted Stanton. “But a little discomfort is worth the safety it provides. So long as the Moroi spend most of their time inside, it won’t be a problem. Plus, it’ll discourage other Moroi from coming and—”

The sound of a car door opening and slamming outside the window caught everyone’s attention. “Ah,” said Michaelson. “There are the others. I’ll let them in.”

He slipped out of the study and presumably headed toward the front door to admit whoever had arrived.

Moments later, I heard a new voice speaking as Michaelson returned to us.

“Wel , Dad couldn’t make it, so he just sent me,” the new voice was saying.

The study door opened, and my heart stopped.

No, I thought. Anyone but him.

“Jared,” said the newcomer, catching sight of my father.

“Great to see you again.”

My father, who had barely spared me a glance al night, actually smiled. “Keith! I’d been wondering how you’ve been.” The two of them shook hands, and a wave of disgust rolled through me.

“This is Keith Darnel ,” said Michaelson, introducing him to the others.

“Tom Darnel ’s son?” asked Barnes, impressed. Tom Darnel was a legendary leader among the Alchemists.

“The same,” said Keith cheerfully. He was about five years older than me, with blond hair a shade lighter than mine. I knew a lot of girls thought he was attractive. Me? I found him vile. He was pretty much the last person I’d expected to see here.

“And I believe you know the Sage sisters,” added Michaelson.

Keith turned his blue eyes first to Zoe, eyes that were just fractional y different from each other in color. One eye, made of glass, stared blankly ahead and didn’t move at all.

The other one winked at her as his grin widened.

He can still wink, I thought furiously. That annoying, stupid, condescending wink! But then, why wouldn’t he?

We’d all heard about the accident he’d had this year, an accident that had cost him an eye. He’d stil survived with one good one, but somehow, in my mind, I’d thought the loss of an eye would stop that infuriating winking.

“Little Zoe! Look at you, al grown up,” he said fondly. I’m not a violent person, not by any means, but I suddenly wanted to hit him for looking at my sister that way.

She managed a smile for him, clearly relieved to see a familiar face here. When Keith turned toward me, however, al that charm and friendliness vanished. The feeling was mutual.

The burning, black hatred building up inside of me was so overwhelming that it took me a moment to formulate any sort of response. “Hello, Keith,” I said stiffly.

Keith didn’t even attempt to match my forced civility. He immediately turned toward the senior Alchemists. “What is she doing here?”

“We know you requested Zoe,” said Stanton levelly, “but after consideration, we decided it would be best if Sydney fulfill this role. Her experience dwarfs any concerns about her past actions.”

“No,” said Keith swiftly, turning that steely blue gaze back on me. “There is no way she can come, no way I’m trusting some twisted vamp lover to screw this up for al of us. We’re taking her sister.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s