On The Record: Revolutionary Heartbreak of Florence + The Machine

Florence-The-Machine-How-Big-How-Blue-How-Beautiful

Setelah lebih dari tiga tahun, Florence + The Machine kembali dengan mengganti penampilan teatris mereka dengan citra yang lebih down to earth dan musik yang penuh seruan, pertanyaan, dan pembelajaran tentang realita kehidupan.

Menulis lagu tentang patah hati bukanlah suatu hal yang baru. Bahkan penyanyi-penyanyi besar seperti Taylor Swift dan Ed Sheeran terang-terangan mengaku kerap terinspirasi oleh mantan-mantan kekasih mereka. Ternyata kegagalan  sebuah hubungan tidak hanya dapat menginspirasi, tapi juga memberi nafas baru dalam musik seperti yang dialami oleh Florence Welch, lead vocalist dan sekaligus otak dibalik seluruh lagu milik grup musik alternative Florence + The Machine.

Bukan berarti ini pertama kalinya musikalitas wanita Inggris berumur 28 tahun ini terpengaruh oleh urusan asmara, mengingat  album debut mereka bertajuk Lungs ditulis sebagai reaksi atas  hubungannya  dengan kekasih yang sempat retak saat itu. Namun, musik yang disuguhkan Florence + The Machine sangat jauh berbeda dari musik mellow yang biasa kita dengar.  Kesedihan dan amarah Florence dibalut oleh percampuran unik antara suara harpa, perkusi, dan drum dengan lirik yang berani—bahkan single pertama mereka “Kiss with a Fist” sempat mengundang kontroversi karena dicap mengisahkan kekerasan dalam hubungan, walaupun pada akhirnya Florence menjelaskan lagu itu tentang emosi sepasang kekasih yang saling menyakiti tapi sekaligus saling menyayangi. Dengan keunikan ini, Florence + The Machine berhasil memenangkan BRIT Awards pada tahun 2010 sebagai album Inggris terbaik dan Lungs pun disebut sebagai album debut sempurna oleh kritikus dari PopMatters.

Untuk album kedua mereka, Ceremonials, Florence menyajikan hal yang sama namun lebih intens. Musik mereka jauh lebih kelam dan besar dengan suara drum dan bass yang lebih megah. Rambut Florence sengaja diwarnai dengan warna merah yang lebih menyala dan dia tidak pernah lupa mengenakan jubah putih atau maxi dress adi busana di setiap penampilan mereka, menguatkan citra goddess-like dan teatrisnya. Hal ini menarik perhatian berbagai produser film Hollywood untuk mengajaknya berkontribusi dalam album soundtrack untuk film-film terkenal seperti The Twilight Saga : Eclipse, Snow White and The Huntsman, dan The Great Gatsby. Namun di tengah namanya yang sedang menanjak, Florence justru menyatakan dia berencana beristirahat selama setahun sebelum mulai meramu album ketiga mereka.

Pada bulan Februari 2015, Florence akhirnya menjawab penantian para penggemarnya dengan merilis sebuah teaser video album terbaru mereka berjudul How Big, How Blue, How Beautiful. Disutradari oleh Tabitha Denholm dan Vincent Haycock, video ini menampilkan Florence menari dengan seorang wanita yang sangat mirip dengannya sebelum akhirnya mereka berpisah.

Namun, ternyata tidak semua reaksi dari fans positif. Sebagian dari mereka sempat khawatir dengan perubahan musik dan citra yang Florence pernah ungkapkan sebelumnya. Dia menyebut album kali ini tidak akan lagi terpaku pada kematian dan air serta ide untuk melarikan diri atau transendensi melalui kematian seperti pada Ceremonials, melainkan tentang berusaha belajar cara untuk hidup dan mencintai dunia, bukannya kabur. Perubahan ini disebut ada hubungannya dengan krisis yang Florence alami semasa absen karena hubungannya akhirnya gagal setelah berkali-kali berusaha untuk memperbaikinya. “Aku masih pergi keluar dan menghadiri berbagai acara tapi ada sesuatu yang terasa tidak beres. Emosiku sedikit memburuk. Aku tidak membuat diriku bahagia. Aku tidak stabil,” akunya.

Kesedihannya langsung dia ungkapkan di lagu pembuka sekaligus single kedua album terbaru mereka, “Ship To Wreck”. Sebuah lagu yang ironis karena walaupun dibalut dengan suara gitar ala abad ’80-an dan musik upbeat, lagu ini menyiratkan perilaku yang merusak diri. Lewat lagu ini, Florence sepertinya juga ingin menunjukkan dia tidak berniat mematuhi perintah sang produser, Markus Dravs—seorang produser ternama yang pernah bekerja sama dengan Bjork, Coldplay, dan Mumford & Sons—untuk berhenti menulis tentang air, sesuatu yang sudah dia lakukan sejak awal kariernya.

Florence menyatakan kegundahannya secara gamblang di “What Kind Of Man” dengan meneriakkan kalimat “What kind of man loves like this?” berulang-ulang, memamerkan vokalnya yang kuat dengan diiringi dentuman drum dan gitar rock.

“How Big, How Blue, How Beautiful” yang merupakan title track dari album yang baru rilis 2 Juni lalu ini ditempatkan di urutan ketiga. Dibuka dengan bisikan Florence yang menyebut papan nama Hollywood dalam liriknya, lagu ini ditutup dengan irama instrumental karya Will Gregory dari grup duo electronic Inggris, Goldfrapp, yang memakan satu setengah menit terakhir durasi lagu ini. “Suara trompet di akhir lagu itu—menurutku seperti itulah rasa cinta, sepotong suara terompet tanpa akhir yang mengalun ke angkasa dan membawamu terbang bersamanya,” jelas Florence.

Saat sebuah hubungan tidak berhasil, kau akan berusaha mencari tahu bagaimana dan kenapa hubungan itu tidak berhasil bagimu. Hal seperti itu merendahkan derajatmu dan itu manusiawi, sesuatu yang semua orang alami. Dengan sudut pandang itulah aku menulis (album ini).

Florence dan produsernya menulis bersama lagu keempat “Queen of Peace” yang dipenuhi suara hentakan, paduan suara, dan terompet. Dalam lagu ini, Florence membandingkan penderitaannya dengan kesedihan yang dialami sepasang raja dan ratu yang  baru saja kehilangan putra mereka dalam sebuah peperangan, membuat kemenangan mereka menjadi bittersweet.

Dalam “Various Storms and Saints”, Florence menggunakan badai sebagai metafora dari hubungannya yang menggemparkan dan kemudian kisahnya dilanjutkan pada lagu kesepuluh “St. Jude”, sebuah alunan lembut terinspirasi dari badai yang sempat menerjang utara Eropa tahun 2013 silam.

Untuk “Delilah”, Florence menulisnya bersama mantan perawat adiknya dan sekaligus rekan bermusiknya saat ini, Isabella Summers, alias “The Machines”. Lagu ini dihiasi dengan drum dan gitar ala musik rock yang mengundang kita menari walaupun sebenarnya lagu ini mengisahkan kegelisahan Florence yang sedang menanti telepon dari kekasihnya.

Setelah kesenduan di “Long and Lost” dan “Caught”, semangat kita ditingkatkan kembali dengan “Third Eye”. Lewat lagu ini, Florence berusaha menyemangati seorang temannya untuk belajar membuka dirinya dan jatuh cinta kembali dengan mengungkapkan dia juga pernah mengalami hal yang sama.

Album ini pun diakhiri dengan “Mother”, sebuah lagu bernuansa blues dengan sentuhan soft rock ’70-an yang pada akhirnya diiringi perpaduan synthesizer, drum, dan raungan gitar listrik. Sebuah akhir yang menggemparkan untuk album penuh arti.

150516-01-077
Image by NME.com

Dalam  total 10 lagu dan total durasi selama 48 menit—belum termasuk lima bonus tracks yang disertakan dalam versi deluxe—tersirat kisah perjalanan emosi Florence yang awalnya menerjemahkan perasaannya ke dalam fantasi serta menutupinya dengan strong presence dan penampilan megah menjadi berani tampil hanya dengan pakaian kasual serba putih dan rambut acak-acakan serta menerima kerapuhannya.

Perubahan ini terbukti tidak membuat penggemarnya kecewa dengan berhasilnya album ini meraih peringkat pertama pada Billboard 200, tangga album paling bergengsi di Amerika Serikat. Bahkan, salah satu fansnya menulis di media sosial mengenai perbandingan lirik yang Florence tulis beberapa tahun silam dan sekarang. Dalam lagu “Hardest of Hearts” pada tahun 2009, Florence menulis tentang bagaimana dia akan menghancurkan hati seseorang, sedangkan dalam “Various Storms and Saints”, Florence meminta seseorang untuk menjaga hatinya, membuktikan Florence masih dapat terus tumbuh sebagai seorang penulis lagu.

“Saat sebuah hubungan tidak berhasil, kau akan berusaha mencari tahu bagaimana dan kenapa hubungan itu tidak berhasil bagimu. Hal seperti itu merendahkan derajatmu dan itu manusiawi, sesuatu yang semua orang alami. Dengan sudut pandang itulah aku menulis (album ini),” ungkap Florence dalam wawancaranya dengan NME. Emosional, self-empowering dan dewasa, How Big, How Blue, How Beautiful menjadi puncak baru dalam karier Florence + The Machine yang secara ironis tercipta di masa terapuh, sekaligus paling revolusioner.

9/10

Florence + The Machines albums:

   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s